Ketua Relawan Rescue Riau Darurat (RRD), Dedi Azwandi, mengungkapkan bahwa sejumlah ambulans yang membawa pasien darurat beberapa kali mengalami hambatan akibat antrean kendaraan yang mengular hingga berjam-jam.
"Mobil ambulans membawa pasien emergency sulit melintas. Tadi malam ada dua unit, hari ini ada empat unit ambulans yang terjebak. Harusnya bisa cepat sampai, akhirnya terlambat karena kemacetan," ujar Dedi, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, antrean kendaraan di lokasi perbaikan jalan bahkan mencapai 7 hingga 8 jam pada waktu-waktu tertentu. Kondisi tersebut diperparah oleh kendaraan yang diduga menyerobot antrean sehingga memperburuk arus lalu lintas.
Dedi menegaskan, apabila tidak ada perubahan sistem pengaturan lalu lintas dalam waktu dekat, para relawan ambulans akan mempertimbangkan aksi simbolik sebagai bentuk protes.
"Kami sudah berkomunikasi dengan kawan-kawan ambulans. Kalau sistem ini tidak berubah, akan kami tutup jalan ini pakai ambulans," tegasnya.
Ia menilai persoalan utama bukan semata proyek perbaikan jalan, melainkan lemahnya pengaturan lalu lintas selama pekerjaan berlangsung. Padahal, menurutnya, di Kabupaten Pelalawan terdapat puluhan ambulans yang setiap hari melayani kebutuhan masyarakat dari berbagai kecamatan.
"Kami masih bisa sabar, tetapi bagaimana dengan pasien di dalam ambulans? Ada yang membutuhkan oksigen, ada yang harus segera dirujuk. Nyawa manusia yang dipertaruhkan," katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah warga yang meminta aparat kepolisian turun langsung mengatur lalu lintas di titik-titik rawan kemacetan. Kehadiran petugas dinilai penting untuk mencegah kendaraan saling mendahului dan memberikan prioritas kepada ambulans maupun kendaraan darurat lainnya.
"Polantas harus turun tangan. Setidaknya ada petugas yang mengatur sehingga tidak ada kendaraan yang saling menyerobot antrean," ujar salah seorang warga.
Masyarakat juga meminta kontraktor pelaksana proyek berkoordinasi lebih intensif dengan Dinas Perhubungan, kepolisian, dan pemerintah daerah agar perbaikan infrastruktur tidak menimbulkan dampak yang membahayakan pengguna jalan.
Sejumlah warga mengaku mendukung pembangunan dan perbaikan jalan yang sedang berlangsung. Namun mereka menegaskan bahwa proyek pembangunan tidak boleh mengorbankan keselamatan masyarakat, terutama pasien yang sedang berjuang mendapatkan pertolongan medis.
Hingga berita ini disusun, masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Pelalawan, Dinas Perhubungan, pihak pelaksana proyek, dan Polres Pelalawan segera mengambil langkah konkret dengan menempatkan petugas di titik-titik rawan, membuka jalur prioritas ambulans, serta menindak kendaraan yang melanggar aturan antrean.
Sebab bagi pengguna jalan biasa, kemacetan mungkin hanya soal waktu. Namun bagi pasien dalam ambulans, keterlambatan beberapa menit saja dapat menentukan antara hidup dan mati.
Tulis Komentar