Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran terjadi pada ekosistem gambut yang memiliki karakter berbeda dengan lahan mineral. Kobaran api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan api telah benar-benar padam. Bara dapat bertahan di lapisan gambut sehingga proses pendinginan harus dilakukan secara menyeluruh dan berulang.
Dua lokasi yang terbakar masing-masing berada di Lingkungan Air Kuning, Kelurahan Kerumutan, serta Dusun Telayap, Desa Pangkalan Tampoi.
Di Air Kuning, kebakaran melanda sekitar 2,5 hektare lahan gambut yang ditumbuhi semak belukar dan merupakan lahan milik masyarakat. Lokasi tersebut berjarak sekitar 25 kilometer dari Polsek Kerumutan.
Sementara di Dusun Telayap, sekitar 2,5 hektare lahan gambut yang ditanami kelapa sawit berusia sekitar 20 tahun milik masyarakat turut terdampak. Lokasi ini berjarak sekitar 30,8 kilometer dari Polsek Kerumutan.
Dengan demikian, total lahan yang terdampak dalam dua titik tersebut diperkirakan mencapai 5 hektare.
Puluhan Personel Dikerahkan, Dua Excavator Buka Sekat Bakar
Besarnya tantangan di lapangan membuat operasi tidak hanya mengandalkan pemadaman manual.
Sebanyak 25 personel Polri dari Polsek Kerumutan, Polsek Pangkalan Kuras, Polsek Pangkalan Lesung dan Polsek Ukui dikerahkan ke lokasi.
Kekuatan tersebut diperkuat 30 personel RPK PT GH, 21 personel RPK PT SLS, empat personel RPK PT Arara Abadi, lima anggota KTPA serta 10 masyarakat.
Tim juga mengoperasikan 12 unit mesin Ministrike, satu mesin besar Motoyama dan dua unit excavator milik PT GH.
Excavator digunakan untuk membuat sekat bakar di sekitar lokasi kebakaran guna menghambat penyebaran api.
Strategi pemadaman dilakukan melalui penyiraman langsung, pendinginan area yang telah terbakar serta pembuatan sekat bakar.
Namun, kekuatan personel dan peralatan tersebut belum sepenuhnya mampu mengakhiri ancaman api.
Cuaca Panas, Angin Kencang, Sumber Air Terbatas
Tim gabungan menghadapi sejumlah kendala serius di lapangan. Cuaca sangat panas, angin kencang dan minimnya sumber air menjadi faktor yang memperberat proses pemadaman.
Kondisi tersebut membuat api lebih sulit dikendalikan dan meningkatkan risiko munculnya kembali titik panas.
Hingga kegiatan berakhir sekitar pukul 12.00 WIB, sejumlah titik api masih menyala dan menghasilkan asap tebal.
Fakta ini menunjukkan bahwa operasi Karhutla di lahan gambut tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat. Tim harus memastikan bara di sekitar lokasi benar-benar kehilangan panas dan tidak kembali berkembang menjadi kebakaran baru.
Kapolsek: Gambut Sulit Dipadamkan
Kapolsek Kerumutan IPTU Budi Santoso mengapresiasi keterlibatan seluruh unsur dalam operasi tersebut.
“Kami mengapresiasi kekompakan seluruh unsur RPK perusahaan, KTPA dan masyarakat yang bersama-sama turun ke lapangan,” ujarnya.
Menurutnya, karakter lahan gambut menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam penanganan kebakaran, terlebih ketika kondisi cuaca panas.
“Kondisi lahan gambut memang sulit dipadamkan, apalagi ditambah cuaca panas. Kami terus mengimbau agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dampaknya sangat luas,” kata Budi.
Lima Hektare Hari Ini, Pertanyaan Besarnya: Mengapa Api Terus Kembali?
Kebakaran di dua lokasi dengan total sekitar lima hektare tersebut kembali memperlihatkan persoalan klasik Karhutla di kawasan gambut: pemadaman adalah respons, tetapi pencegahan merupakan pekerjaan utama.
Ketika sumber air terbatas dan cuaca semakin panas, kemampuan tim untuk mengendalikan api menjadi semakin berat. Apalagi jika kebakaran terjadi di lahan gambut yang memiliki potensi menyimpan bara di bawah permukaan.
Karena itu, penanganan Karhutla semestinya tidak berhenti pada pengerahan personel ketika api sudah membesar.
Patroli kawasan rawan, deteksi dini titik panas, pemantauan kondisi lahan, kesiapan sumber air, pembasahan kawasan gambut serta edukasi masyarakat harus berjalan sebelum kebakaran terjadi.
Di sisi lain, setiap kebakaran juga membutuhkan perhatian terhadap penyebab dan sumber awal api. Pemadaman menyelesaikan keadaan darurat, tetapi pengungkapan penyebab menjadi bagian penting untuk mencegah peristiwa serupa berulang.
Jangan Sampai Negara Hanya Datang Saat Api Membesar
Polres Pelalawan menyatakan akan meningkatkan patroli dan sosialisasi pencegahan Karhutla di wilayah rawan.
Sinergi antara Polri, TNI, pemerintah, perusahaan dan masyarakat memang menjadi kebutuhan mutlak. Namun, efektivitas sinergi tersebut pada akhirnya harus diukur dari kemampuan mencegah api, bukan semata-mata seberapa besar kekuatan yang dikerahkan setelah kebakaran terjadi.
Lima hektare gambut yang terbakar di Kerumutan menjadi pengingat bahwa persoalan Karhutla bukan hanya tentang api.
Ini menyangkut kualitas udara, keselamatan masyarakat, keberlanjutan ekosistem gambut dan risiko kerusakan lingkungan yang dampaknya dapat melampaui batas lokasi kebakaran.
Dan ketika setelah empat jam operasi api masih menyala dan asap masih mengepul, pesan ekologisnya jelas: pemadaman belum berarti masalah selesai. Justru setelah api dikendalikan, pekerjaan pencegahan harus dimulai.
Tulis Komentar