Namun, wisuda perdana tersebut bukan sekadar seremoni akademik.
Di balik pengukuhan 46 sarjana itu terdapat perjalanan panjang sebuah perguruan tinggi Islam di Pelalawan yang kini memasuki fase baru: dari membangun eksistensi kelembagaan menuju pembuktian kualitas lulusan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Prosesi wisuda dihadiri Koordinator Kopertis Wilayah XII Riau-Kepri Prof. Dr. Hj. Leny Nofianti, MS., S.E., M.Si., Ak., CA, Bupati Pelalawan, jajaran pimpinan IKTN, sivitas akademika, keluarga wisudawan serta sejumlah tamu undangan.
Kehadiran Prof. H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D. juga menjadi perhatian dalam momentum tersebut. Ustaz Abdul Somad menyampaikan orasi ilmiah dan mengingatkan para lulusan bahwa memperoleh gelar sarjana bukan garis akhir perjalanan intelektual.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi IKTN yang sedang memasuki fase penting dalam perjalanan kelembagaannya.
IKTN Tidak Lahir dari Ruang Kosong
Secara kelembagaan, IKTN merupakan hasil transformasi dari Institut Agama Islam Pelalawan (IAIP) yang telah berdiri sejak 2017.
Transformasi itu memperoleh dasar melalui Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 369 Tahun 2023, tertanggal 11 April 2023, tentang izin perubahan nama, pindah alamat dan alih kelola dari Institut Agama Islam Pelalawan menjadi Institut Keislaman Tuah Negeri.
Artinya, sejarah IKTN tidak dapat hanya dihitung sejak perubahan nama pada 2023.
Ada fondasi kelembagaan yang telah dibangun sebelumnya, kemudian ditransformasikan dengan identitas baru, visi baru dan tuntutan yang lebih besar terhadap kualitas pendidikan.
Saat ini IKTN menyelenggarakan pendidikan melalui dua fakultas dengan lima program studi sarjana, yakni Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Agama Islam, Manajemen Bisnis Syariah, serta Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Kampus tersebut berada di Jalan Lintas Timur, Desa Dusun Tua, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kabupaten Pelalawan, dengan lahan yang disebut mencapai sekitar 25.000 meter persegi.
Dari Gelar ke Tanggung Jawab Sosial
Sebanyak 46 sarjana yang diwisuda menjadi capaian penting.
Tetapi jumlah tersebut sekaligus membawa pertanyaan yang lebih besar: apa yang akan dilakukan para lulusan setelah meninggalkan kampus?
Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah. Kampus dituntut melahirkan manusia yang mampu membaca persoalan masyarakat, melakukan penelitian, membangun inovasi, mengabdi dan memberikan solusi.
Di sinilah tantangan IKTN sesungguhnya dimulai.
Visi IKTN menargetkan institusi yang terpercaya, unggul, berdaya saing dan bereputasi nasional pada 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, ukuran keberhasilan tidak cukup berhenti pada jumlah mahasiswa, lulusan atau kegiatan akademik.
Kualitas dosen, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian masyarakat, tata kelola, jejaring akademik serta daya saing lulusan akan menjadi bagian dari ukuran yang menentukan apakah transformasi tersebut benar-benar menghasilkan perubahan.
Pendidikan Islam Harus Menjawab Persoalan Zaman
Tantangan perguruan tinggi Islam saat ini juga semakin kompleks. Mahasiswa hidup dalam ekosistem digital yang membuat informasi begitu mudah diperoleh, tetapi tidak selalu diikuti kemampuan memilah kebenaran.
Di tengah banjir informasi, disinformasi, perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, transformasi ekonomi dan perubahan sosial, pendidikan Islam dituntut tidak hanya menghasilkan orang yang memahami agama.
Ia harus melahirkan intelektual yang mampu mempertemukan ilmu, iman, etika dan realitas kehidupan.
Karena itu, tagline “Lulusan Unggul dan Berdaya Saing” seharusnya tidak berhenti sebagai slogan wisuda.
Ia harus diterjemahkan menjadi kemampuan nyata para alumni untuk memasuki dunia kerja, membangun usaha, mengembangkan ilmu, berkontribusi di lembaga pendidikan, berdakwah secara profesional, mengelola media dan komunikasi publik, serta menyelesaikan persoalan sosial di tengah masyarakat.
IKTN dan Tantangan SDM Pelalawan
Bagi Kabupaten Pelalawan, keberadaan perguruan tinggi Islam lokal memiliki arti strategis. Perguruan tinggi dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi tanpa harus selalu meninggalkan daerah.
IKTN sendiri sebelumnya telah menunjukkan upaya memperluas akses pendidikan melalui kerja sama dengan BAZNAS Pelalawan serta program beasiswa bagi masyarakat, termasuk gagasan “satu keluarga satu sarjana” melalui Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Jika konsisten dikembangkan, model seperti ini dapat memperkuat hubungan antara kampus dan kebutuhan masyarakat.
Perguruan tinggi tidak berada di menara gading.
Kampus harus hadir di tengah persoalan pendidikan, ekonomi, sosial, keagamaan, komunikasi dan pembangunan daerah.
46 Sarjana Adalah Awal, Bukan Akhir
Orasi ilmiah Ustaz Abdul Somad yang mendorong para wisudawan untuk terus belajar menjadi pesan penting dalam momentum tersebut.
Sebab dunia berubah jauh lebih cepat dibandingkan masa studi seseorang.
Gelar sarjana dapat menjadi pintu masuk menuju dunia profesional, tetapi kemampuan belajar sepanjang hayatlah yang menentukan apakah seorang sarjana mampu bertahan dan berkembang.
Karena itu, 46 lulusan perdana IKTN bukan sekadar angka dalam laporan akademik. Mereka adalah ujian pertama terhadap sejauh mana sebuah perguruan tinggi mampu mengubah pendidikan menjadi manfaat sosial.
Jika para lulusan mampu membawa ilmu ke sekolah, lembaga pemerintahan, dunia usaha, media, masyarakat dan ruang-ruang dakwah secara profesional, maka wisuda perdana tersebut akan memiliki makna jauh lebih besar daripada sekadar seremoni.
Tonggak Sejarah Sekaligus Kontrak Moral
Wisuda pertama IKTN akhirnya dapat dibaca sebagai dua hal sekaligus.
Pertama, sebagai keberhasilan kelembagaan setelah perjalanan transformasi dari IAIP menuju IKTN.
Kedua, sebagai awal dari kontrak moral baru antara kampus, alumni dan masyarakat.
IKTN telah memasuki fase pembuktian.
Tantangannya bukan lagi sekadar “apakah kampus ini mampu meluluskan sarjana?”
Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: Apakah IKTN mampu melahirkan sarjana yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, unggul secara keilmuan, kuat secara karakter, berintegritas, mampu bersaing dan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak akan ditentukan di atas panggung wisuda. Jawabannya akan terlihat dari jejak 46 sarjana perdana tersebut ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Dan dari sanalah sejarah IKTN yang sesungguhnya dimulai.
(assepps)
Tulis Komentar