Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa alat bantu hisap atau “pot getar”, ganja kering, serta zat etomidate yang diduga digunakan dalam pesta narkoba tersebut.
Kasat Narkoba Polresta Pekanbaru, Noki Loviko, membenarkan bahwa pihak kepolisian tengah menyiapkan keterangan resmi terkait kasus yang ramai diperbincangkan di media sosial.
“Nanti sore akan dirilis langsung Bapak Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Muharman Arta,” ujar Noki saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (26/5/2026).
Dalam konferensi pers yang digelar kemudian, aparat mengungkap sebanyak 13 orang menjalani asesmen terpadu oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Pekanbaru. Salah satu di antaranya adalah AF, yang diduga merupakan anak Bupati Pelalawan.
Kepala BNN Kota Pekanbaru, Wawan, mengatakan asesmen dilakukan sejak pagi hingga sore oleh tim gabungan yang melibatkan unsur hukum dan medis.
“Mereka masing-masing berinisial KS, RR, GSA, PT, AF, MAY, FTR, IMF, MA, NR, SAP, SA dan ALS,” kata Wawan.
Menurut dia, tim hukum terdiri dari penyidik Polresta Pekanbaru, penyidik BNN Kota Pekanbaru, dan jaksa dari Kejaksaan Negeri Pekanbaru. Tim tersebut mendalami kemungkinan keterlibatan peserta dalam jaringan peredaran narkotika.
Sementara itu, tim medis melakukan pemeriksaan tingkat penggunaan narkotika, mulai dari kategori ringan hingga berat. Hasil gabungan kedua tim menjadi dasar penentuan apakah seseorang diproses hukum atau direhabilitasi.
“Hasil asesmen menentukan apakah tersangka dilanjutkan ke penyidikan atau menjalani rawat inap maupun rawat jalan,” jelas Wawan.
Satu Orang Naik Penyidikan
Dari hasil asesmen, satu tersangka berinisial FR diputuskan lanjut ke tahap penyidikan. FR diketahui positif ganja dan kedapatan menyimpan barang bukti ganja seberat 9,86 gram serta etomidate seberat 7,76 gram.
BNN menilai jumlah barang bukti tersebut melebihi batas maksimal kategori pengguna sebagaimana diatur dalam SEMA Nomor 4 Tahun 2010, yakni lima gram ganja.
“Karena barang buktinya melebihi ketentuan, maka perkaranya dilanjutkan ke tingkat penyidikan,” ujar Wawan.
BNN juga menduga FR merupakan pihak yang memberikan etomidate kepada peserta lain dalam kegiatan tersebut.
Sementara MAY yang kedapatan membawa 1,39 gram ganja tidak ditemukan keterlibatan dalam jaringan narkotika. Namun, ia dikategorikan sebagai pengguna berat dan direkomendasikan menjalani rehabilitasi rawat inap selama tiga bulan.
“Untuk rawat inap bisa di fasilitas milik pemerintah atau swasta. Kalau milik BNN gratis,” kata Wawan.
Sebanyak 11 peserta lain, termasuk AF dan selebgram Pekanbaru berinisial SA, direkomendasikan menjalani rehabilitasi rawat jalan karena dinilai sebagai pengguna ringan dan tidak terlibat jaringan peredaran narkotika.
AF Positif Ganja dan Etomidate
Perhatian publik kemudian tertuju pada AF setelah hasil asesmen menyatakan dirinya positif ganja dan etomidate. Namun, BNN menyebut AF tidak terbukti mengonsumsi ganja secara langsung.
Wawan menjelaskan, hasil pendalaman menunjukkan dua peserta lain menggunakan ganja di dalam toilet tertutup di lokasi kejadian. Dalam situasi itu, AF disebut sempat masuk ke ruangan yang masih dipenuhi asap ganja.
“Kok bisa tidak menggunakan ganja, tapi tiba-tiba positif? Ternyata, dua tersangka yang menggunakan ganja, mereka menghisap ganja di dalam toilet. Lalu AF masuk ke toilet tersebut,” jelas Wawan.
Menurutnya, pihak BNN juga meminta penjelasan medis terkait kemungkinan seseorang dinyatakan positif akibat menghirup asap narkotika di ruang tertutup.
“Dan saya tanya ke dokter, apakah bisa positif ganja jika situasinya seperti itu, menghirup asap di udara? Ternyata bisa. Dan yang bersangkutan mengaku tidak menggunakan ganja,” ujarnya.
Meski demikian, hasil laboratorium tetap menunjukkan adanya kandungan ganja dan etomidate dalam tubuh AF.
Etomidate sendiri belakangan menjadi perhatian aparat penegak hukum karena diduga kerap disalahgunakan melalui cairan vape. Zat anestesi tersebut sejatinya digunakan untuk kepentingan medis dan dapat memengaruhi sistem saraf apabila digunakan di luar prosedur kesehatan.
Sorotan Publik dan Ujian Integritas Penegakan Hukum
Kasus ini menjadi sorotan karena menyeret nama keluarga kepala daerah dan figur publik media sosial. Publik kini menunggu sejauh mana aparat penegak hukum menjalankan proses secara transparan dan setara tanpa memandang latar belakang para pihak yang terlibat.
Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap penyalahgunaan narkotika di kalangan anak pejabat dan figur publik, langkah rehabilitasi terhadap sebagian besar peserta asesmen juga diperkirakan akan memunculkan perdebatan mengenai batas antara pengguna dan pelaku yang terlibat dalam jaringan peredaran narkotika.
Tulis Komentar