Budaya dan Sastra

Tempat Terakhirmu Tak Pernah Kulupa

Puisi Persembahan untuk Mama, Papa, dan Saudara Laki-Lakiku Tercinta

Oleh: Assep Putra Sulaiman

Di antara sunyi yang tak bersuara,
di antara rindu yang tak lagi bertuan,
ada nama-nama yang tetap hidup dalam dada,
meski jasad telah kembali ke pangkuan Tuhan.

Mama…
engkaulah rahim kasih yang pertama kukenal,
tempat lelahku dahulu menemukan pulang,
tempat tangisku reda dalam pelukan,
dan doa-doamu mengiringi setiap langkah kehidupan.

Kini, tak ada lagi suaramu memanggil namaku,
tak ada lagi tangan lembut yang membelai kepalaku.
Namun, di setiap sujud dan helaan napas,
bayang kasihmu tak pernah benar-benar lepas.

Papa…
engkaulah tegak yang mengajarkanku bertahan,
meski hidup tak selalu ramah pada perjalanan.
Diammu menyimpan banyak pengorbanan,
peluhmu menjadi saksi cinta yang tak membutuhkan pujian.

Kini, langkahmu telah berhenti di dunia,
namun ajaranmu tetap berjalan dalam jiwa.
Barangkali dahulu tak semua kasih sempat kuucapkan,
tetapi sampai hari ini, namamu tak pernah kulupakan.

Saudaraku…
engkau bukan sekadar darah yang mengalir sama,
engkau bagian dari kisah, tawa, dan luka.
Kita pernah tumbuh dalam atap yang sama,
berbagi cerita, meski tak semua mimpi sempat menjadi nyata.

Kini, tempatmu pun telah berbeda,
tak ada lagi suara yang menyahut panggilanku.
Hanya kenangan yang sesekali datang menyapa,
membawa haru yang diam-diam membasahi mataku.

Tempat terakhirmu tak pernah kulupa…

Di sanalah tanah menjadi saksi perpisahan,
di sanalah langkahku terhenti oleh kenyataan,
bahwa cinta yang begitu dekat dengan kehidupan
pada akhirnya harus rela melepas dalam kehilangan.

Aku masih mengingat jalan menuju tempat itu,
setiap jejaknya menyimpan pilu yang membisu.
Bukan karena aku tak rela kalian pergi,
melainkan karena rindu tak pernah pandai mengerti.

Aku tahu, hidup bukan tentang siapa yang paling lama tinggal,
bukan pula tentang siapa yang lebih dahulu meninggalkan.
Hidup adalah amanah yang kelak akan berakhir,
dan setiap jiwa akan kembali kepada-Nya.

Namun, ya Allah…
jika rinduku tak mampu menjangkau mereka,
sampaikanlah kasihku melalui doa-doa.
Jika tangisku tak mampu mengetuk pintu surga,
jadikanlah air mataku pengingat akan kefanaan dunia.

Ampunilah dosa mama dan papa,
lapangkanlah tempat peristirahatan mereka.
Ampunilah pula saudara laki-lakiku tercinta,
terangilah jalannya dengan rahmat dan kasih-Mu yang tiada tara.

Jadikanlah kubur mereka taman kedamaian,
jauhkan mereka dari kesempitan dan penderitaan.
Terimalah segala amal baik yang pernah mereka tanam,
dan limpahkanlah rahmat-Mu hingga akhir zaman.

Untuk kalian yang telah mendahului,
aku masih di sini, meneruskan hari.
Belajar tegar meski hati sesekali runtuh,
belajar ikhlas meski rindu tak pernah sungguh-sungguh luruh.

Aku tak ingin mengenang hanya dengan air mata,
aku ingin meneruskan kebaikan yang kalian tinggalkan.
Sebab cinta tak selesai ketika jasad tiada,
ia hidup dalam doa, akhlak, dan setiap kebaikan.

Mama, Papa, dan Saudaraku…

Bila kelak giliranku tiba,
bila napas terakhirku menjadi penutup cerita,
semoga Allah mempertemukan kita kembali,
bukan di dunia yang penuh perpisahan ini,
melainkan di tempat terbaik dalam keabadian,
di bawah naungan rahmat dan ampunan Tuhan.

Sampai saat itu datang,
biarlah namamu kusimpan dalam kenangan,
biarlah doaku terus mengalir dalam kesunyian,
dan biarlah cinta menjadi jembatan
yang tak runtuh oleh jarak kematian.

Tempat terakhirmu tak pernah kulupa.
Bukan sekadar tanah yang menyimpan jasad,
melainkan saksi betapa beratnya melepas,
dan betapa tulusnya cinta yang tetap hidup
meski waktu telah memisahkan kita.

Beristirahatlah dengan tenang,
wahai orang-orang tercinta yang telah mendahului.
Aku akan terus mengenang,
aku akan terus mendoakan,
hingga kelak Allah memperkenankan
kita kembali berkumpul dalam ridha-Nya.

Al-Fatihah.


[Ikuti GardaPos.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar