Opini

Ketika Kekuasaan Menjadi Alat Kezaliman dan Aurat Menjadi Tontonan

(gbr. Ilustrasi)

Oleh: Redaksi Gardapos

Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat tegas melalui sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Imam Muslim. Dalam hadis tersebut, beliau menyebutkan dua golongan yang diancam dengan azab yang berat: mereka yang menggunakan kekuasaan untuk menzalimi manusia, dan perempuan yang berpakaian tetapi tidak memenuhi tuntunan syariat sehingga mengundang fitnah serta mendorong penyimpangan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Dua macam yang termasuk penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya: sebuah kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk memukuli manusia dan wanita yang berpakaian namun telanjang, menyimpang lagi membuat orang lain menyimpang. Kepala mereka bagai punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak pula mencium wanginya, padahal wanginya dapat tercium dari jarak yang sangat jauh." (HR. Muslim).

Hadis ini bukan sekadar menggambarkan kondisi akhirat, tetapi juga menjadi peringatan moral bagi kehidupan dunia. Kekuasaan sejatinya adalah amanah, bukan alat untuk menindas. Jabatan bukan sarana menakut-nakuti rakyat, melainkan tanggung jawab untuk menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, dan melayani masyarakat.

Dalam kehidupan modern, bentuk "cambuk" tidak selalu berupa alat pemukul. Ia dapat menjelma menjadi penyalahgunaan wewenang, intimidasi, tindakan sewenang-wenang, korupsi, atau kebijakan yang merugikan rakyat. Ketika kekuasaan dipakai untuk kepentingan pribadi atau kelompok, saat itulah amanah berubah menjadi kezaliman.

Hadis tersebut juga mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan dan akhlak. Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan "berpakaian namun telanjang" merupakan peringatan agar kaum muslimah menjaga adab berpakaian sesuai tuntunan syariat dan tidak menjadikan penampilan sebagai sarana mengundang fitnah. Pesan ini harus dipahami sebagai ajakan untuk memperbaiki diri, bukan sebagai dasar menghakimi individu tertentu.

Di tengah derasnya arus media sosial dan budaya digital, nilai-nilai kesopanan dan rasa malu semakin menghadapi tantangan. Popularitas sering kali diukur dari sensasi, sementara batas antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab moral menjadi semakin kabur. Hadis ini mengingatkan bahwa kemajuan zaman tidak boleh mengikis nilai-nilai agama dan akhlak.

Pesan Rasulullah SAW tetap relevan sepanjang masa. Pemimpin dituntut berlaku adil dan menjauhi kezaliman. Setiap muslim juga diajak menjaga kehormatan diri, keluarga, dan masyarakat. Islam mengajarkan bahwa keselamatan tidak hanya ditentukan oleh ibadah ritual, tetapi juga oleh akhlak, keadilan, dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah.

Hadis ini menjadi cermin bagi siapa pun. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Demikian pula, menjaga kehormatan diri merupakan bagian dari ketaatan yang bernilai ibadah.

Pada akhirnya, ancaman dalam hadis tersebut bukan untuk menebarkan rasa takut semata, melainkan sebagai panggilan untuk bermuhasabah. Sebab, masyarakat yang adil lahir dari pemimpin yang amanah, dan peradaban yang bermartabat dibangun oleh manusia yang menjaga akhlak dan kehormatannya.


[Ikuti GardaPos.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar