Karhutla Kerumutan Belum Padam, RPK PT Arara Abadi Turun Tangan: Kolaborasi Diuji di Tengah Ancaman Api dan Gambut
Kamis, 27 Agustus 2026 - 18:02:42 WIB
GARDAPOS COM, PELALAWAN – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, memasuki fase yang membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Personel Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Arara Abadi ikut diterjunkan bersama tim gabungan untuk turut bergotongroyong membantu mengendalikan kebakaran yang masih berlangsung sejak 22 Agustus 2026.
Keterlibatan perusahaan tersebut tidak hanya menunjukkan dukungan terhadap operasi pemadaman, tetapi juga memperlihatkan bahwa karhutla merupakan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja.
Dengan mengerahkan personel dan peralatan pemadaman, RPK PT Arara Abadi bergabung dengan unsur pemerintah, aparat, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya di lapangan.
Targetnya jelas: menghentikan penyebaran api sebelum meluas dan memperbesar dampak terhadap lingkungan serta masyarakat.
Karhutla Tak Mengenal Batas Wilayah Operasional
Direktur PT Arara Abadi Edie Haris MZ menegaskan bahwa penanganan kebakaran membutuhkan kerja bersama.
“Kebakaran tidak bisa ditangani sendiri. Kita berkomitmen bersama-sama semua pihak menjaga dan menanggulangi pengendalian kebakaran hutan secara kolaboratif dan gotong royong.”
Menurutnya, keterlibatan RPK PT Arara Abadi dalam penanganan kebakaran di Kerumutan merupakan bagian dari dukungan terhadap upaya tim gabungan.
Perusahaan juga mengerahkan tim RPK dan alat berat untuk membantu operasi di lapangan.
Edie berharap kolaborasi berbagai pihak dapat mempercepat pengendalian areal yang terbakar.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan satu realitas penting dalam penanganan karhutla: api tidak mengenal batas administratif maupun batas wilayah operasional perusahaan.
Ketika kebakaran terjadi, dampaknya dapat merambat ke kawasan lain, menghasilkan asap dan mengganggu kehidupan masyarakat.
BPBD Apresiasi Keterlibatan Perusahaan
Kepala Pelaksana BPBDPK Riau M. Edy Afrizal mengapresiasi keterlibatan PT Arara Abadi bersama tim gabungan Satgas Karhutla dalam penanganan kebakaran di sejumlah titik di Pelalawan.
“Kami berterima kasih dan mengapresiasi Tim Gabungan Satgas dan tim dari perusahaan PT Arara Abadi APP Group dalam penanganan Karhutla yang terjadi di beberapa titik di wilayah Kabupaten Pelalawan terutama di Desa Merbau dan beberapa daerah lainnya.”
Menurut Edy, sinergi antara perusahaan dan berbagai pemangku kepentingan perlu terus dilakukan dan dipertahankan.
Hal tersebut menjadi penting karena kapasitas penanganan karhutla membutuhkan personel, peralatan, akses menuju lokasi dan sumber daya yang tidak sedikit.
Kehadiran RPK perusahaan dapat menjadi penguatan kapasitas operasi ketika titik kebakaran berada di lokasi yang sulit dijangkau atau membutuhkan dukungan peralatan khusus.
Namun Kolaborasi Bukan Berarti Persoalan Selesai
Di balik apresiasi terhadap gotong royong di lapangan, terdapat persoalan yang lebih besar yang tidak boleh diabaikan.
Mengapa kebakaran kembali terjadi?
Pertanyaan tersebut sama pentingnya dengan bagaimana api dipadamkan.
Pemadaman adalah respons terhadap kebakaran yang sudah terjadi. Sementara pencegahan harus menjawab penyebab dan kondisi yang memungkinkan kebakaran muncul kembali.
Karena itu, kolaborasi idealnya tidak berhenti ketika kobaran api berhasil dipadamkan.
Patroli kawasan rawan, pemantauan titik panas, edukasi masyarakat, pengawasan pembukaan lahan dan penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal harus berjalan beriringan.
Jika tidak, operasi pemadaman hanya akan menjadi siklus berulang: api muncul, tim turun, api dipadamkan, kemudian kebakaran kembali terjadi.
Kerumutan Menguji Kekuatan Sinergi
Upaya pemadaman di Kecamatan Kerumutan telah dilakukan sejak 22 Agustus 2026 dan masih berlangsung hingga api benar-benar dapat dikendalikan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan persoalan yang dapat diselesaikan hanya dengan satu kali operasi.
Terlebih jika kebakaran berada pada kawasan yang memiliki karakteristik sulit ditangani, kondisi cuaca mendukung penyebaran api dan akses sumber air terbatas.
Karena itu, keselamatan personel tetap harus menjadi prioritas.
Setiap unsur yang berada di lapangan harus bekerja berdasarkan koordinasi dan prosedur keselamatan, mengingat operasi pemadaman karhutla memiliki risiko tinggi.
Dari Pemadaman Menuju Pencegahan
Keterlibatan RPK PT Arara Abadi bersama tim gabungan patut dilihat sebagai bentuk kolaborasi multipihak dalam menghadapi ancaman ekologis.
Namun, keberhasilan sejati tidak cukup diukur dari berapa banyak personel yang dikerahkan atau berapa unit peralatan yang diturunkan.
Ukuran yang lebih strategis adalah apakah kolaborasi tersebut mampu menghentikan api, mencegah penyebaran, memulihkan kawasan terdampak dan menekan kemungkinan kebakaran berulang.
Sebab ketika karhutla terjadi, yang dipertaruhkan bukan hanya kawasan yang terbakar.
Ada kualitas udara, keselamatan masyarakat, ekosistem gambut, aktivitas ekonomi dan masa depan lingkungan Pelalawan yang ikut dipertaruhkan.
Kerumutan kini menjadi salah satu panggung penting untuk membuktikan bahwa semangat gotong royong dalam penanganan karhutla bukan sekadar slogan.
Api harus dipadamkan. Penyebabnya harus dicegah. Dan kolaborasi harus berlanjut sampai persoalan benar-benar selesai—bukan berhenti ketika asap mulai menghilang.
(sep)
Sumber : M. Edy Afrizal , Edie Haris MZ / Editor
: sep/APS
Tulis Komentar