Opini

Mengapa Syariat Kurban Tetap Memilih Hewan? Menafsirkan Ulang Makna Idul Adha di Era Modern

Oleh: Dr. Iswadi M. Yazid, Lc., M.Sy

GARDAPOS.COM, PELALAWAN - Setiap Idul Adha tiba, umat Islam kembali menjalankan satu ritual agung yang telah hidup sejak ribuan tahun lalu: penyembelihan hewan kurban. Takbir berkumandang dari masjid dan mushalla, sementara sapi, kambing, dan domba dipersiapkan sebagai bagian dari ibadah yang sarat makna spiritual dan sosial.

Di tengah kehidupan modern yang semakin rasional dan praktis, muncul pertanyaan yang kerap menjadi diskusi publik: mengapa syariat kurban tetap diwujudkan melalui penyembelihan hewan ternak? Mengapa bukan dalam bentuk lain seperti bantuan uang tunai atau program sosial yang dianggap lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini?

Pertanyaan tersebut sejatinya bukan bentuk keraguan terhadap agama, melainkan upaya memahami hikmah terdalam dari syariat Islam. Sebab, Islam tidak pernah menetapkan ajaran tanpa makna. Di balik setiap ibadah terdapat nilai filosofis, spiritual, sosial, dan kemanusiaan yang saling berkaitan.

Karena itu, ibadah kurban tidak cukup dipahami hanya dari aspek hukum fikih semata, tetapi juga perlu dilihat melalui perspektif maqashid syariah, filsafat ibadah, dan relevansinya terhadap kehidupan manusia modern.

Al-Qur’an telah menegaskan hakikat kurban dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa esensi kurban bukan terletak pada darah atau daging hewan yang disembelih, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan manusia yang melaksanakannya.

Namun justru di titik itu muncul pertanyaan filosofis lain: jika yang dikehendaki Allah adalah ketakwaan, mengapa media ibadahnya tetap berupa hewan ternak?

Untuk memahami hal tersebut, sejarah ibadah kurban perlu ditarik kembali pada kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Peristiwa itu bukan sekadar cerita emosional tentang ayah dan anak, melainkan simbol penghambaan total seorang manusia kepada Tuhannya.

Nabi Ibrahim diuji untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya. Ketika ujian mencapai puncak, Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor sembelihan besar sebagaimana disebutkan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 107.

Peristiwa itu memiliki pesan penting bagi sejarah kemanusiaan. Islam hadir bukan untuk membenarkan pengorbanan manusia sebagaimana praktik kuno di sejumlah peradaban terdahulu, melainkan menggantinya dengan simbol pengorbanan yang lebih manusiawi melalui hewan ternak.

Dalam konteks masyarakat Arab saat itu, hewan ternak merupakan simbol kekayaan dan sumber kehidupan. Karena itu, ketika seseorang mengurbankan hewan terbaiknya, sejatinya ia sedang belajar melepaskan keterikatan terhadap materi dan kepentingan duniawi.

Di sinilah letak filosofi mendasar ibadah kurban: manusia tidak hanya diajarkan memberi, tetapi juga rela berkorban.

Islam bahkan mengajarkan agar hewan kurban dipilih dari yang terbaik, sehat, dan tidak cacat. Dalam perspektif spiritual, kualitas hewan mencerminkan kualitas pengorbanan dan keikhlasan seseorang kepada Allah SWT.

Di era modern, sebagian orang membandingkan kurban dengan bantuan sosial berupa uang tunai. Secara ekonomi, pendapat itu mungkin memiliki dasar logis. Namun syariat Islam tidak dibangun semata atas pertimbangan material.

Kurban bukan hanya tentang hasil akhir berupa daging yang dibagikan kepada masyarakat, tetapi juga tentang proses batin manusia ketika melepaskan sesuatu yang bernilai dalam hidupnya.

Berbeda dengan transfer uang yang dapat dilakukan secara praktis dan tanpa keterlibatan emosional mendalam, penyembelihan hewan menghadirkan pengalaman spiritual yang lebih nyata. Manusia diingatkan bahwa kehidupan memiliki nilai dan harus dihormati.

Karena itu, Islam mengatur etika penyembelihan secara rinci. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan terhadap hewan, melainkan menanamkan kasih sayang dan tanggung jawab moral terhadap seluruh makhluk hidup.

Selain dimensi spiritual, kurban juga memiliki fungsi sosial yang sangat besar. Di tengah masyarakat modern yang semakin individualistis, Idul Adha menjadi momentum solidaritas sosial yang nyata.

Daging kurban dibagikan kepada masyarakat miskin dan mereka yang membutuhkan. Bahkan di banyak daerah, Idul Adha menjadi satu-satunya kesempatan bagi sebagian masyarakat untuk menikmati daging dalam jumlah cukup.

Dalam perspektif maqashid syariah, hal itu merupakan bagian dari prinsip jalb al-mashalih, yakni menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia.

Namun di tengah perkembangan zaman, substansi kurban mulai mengalami pergeseran. Tidak sedikit yang menjadikan kurban sekadar rutinitas tahunan tanpa penghayatan makna mendalam. Bahkan dalam beberapa kasus, kurban berubah menjadi simbol status sosial dan ajang pencitraan.

Ukuran sapi, harga hewan, hingga dokumentasi media sosial terkadang lebih diperhatikan dibanding nilai keikhlasan dan pengorbanannya.

Padahal inti kurban bukan pada besarnya hewan yang disembelih, melainkan sejauh mana manusia mampu “menyembelih” ego, keserakahan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Ironisnya, masih ditemukan praktik yang bertentangan dengan nilai kurban itu sendiri, seperti perlakuan kasar terhadap hewan, distribusi yang tidak merata, hingga pengelolaan limbah yang buruk.

Karena itu, Idul Adha perlu dimaknai secara lebih substantif dan progresif. Edukasi tentang filosofi kurban harus diperkuat agar ibadah ini tidak berhenti pada aspek seremonial semata.

Pelaksanaan kurban juga harus memperhatikan prinsip ihsan terhadap hewan dan lingkungan, serta distribusinya dilakukan secara profesional dan tepat sasaran agar manfaat sosialnya benar-benar dirasakan masyarakat luas.

Yang paling penting, Idul Adha harus menjadi momentum muhasabah bagi setiap individu. Sebab pertanyaan terbesar dalam kurban bukanlah “berapa mahal hewan yang disembelih,” melainkan “berapa besar ego yang berhasil dikalahkan.”

Pada akhirnya, hewan ternak dalam syariat kurban bukan sekadar media ritual keagamaan, tetapi simbol pengorbanan, ketundukan kepada Tuhan, solidaritas sosial, kasih sayang terhadap sesama makhluk, dan pendidikan spiritual agar manusia tidak diperbudak oleh materi.

Selama manusia masih memiliki kecenderungan mencintai dunia secara berlebihan, maka simbol pengorbanan melalui hewan ternak akan tetap relevan sepanjang zaman. Sebab sejatinya yang Allah kehendaki bukan darah dan dagingnya, melainkan hati manusia yang belajar tunduk, ikhlas, dan kembali mendekat kepada-Nya.

Wallahu a’lam bishawab.


[Ikuti GardaPos.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar