
GARDAPOS.COM, PELALAWAN – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menguji ketahanan kawasan gambut di Kabupaten Pelalawan. Di Lingkungan Air Kuning, Kelurahan Kerumutan, tim gabungan harus mengerahkan personel, mesin pemadam, alat berat hingga helikopter water bombing untuk mengendalikan kobaran api yang melanda sekitar 2,5 hektare lahan gambut.
Kebakaran terdeteksi pada Kamis, 13 Agustus 2026 sekitar pukul 08.30 WIB. Lahan yang terbakar disebut merupakan lahan milik masyarakat dengan vegetasi semak belukar. Hingga Jumat (14/8), proses pemadaman dan pendinginan masih dilakukan karena titik api belum sepenuhnya aman.
Sebanyak 32 personel Polri, tiga personel TNI dan 40 anggota regu pemadam kebakaran perusahaan dikerahkan. Operasi juga diperkuat 11 unit mesin Ministrike, dua mesin besar jenis Tohatsu dan Motoyama, dua unit excavator serta satu helikopter water bombing milik BNPB.
Excavator digunakan untuk membuat sekat bakar, sementara helikopter melakukan penyiraman dari udara untuk menjangkau titik-titik yang sulit ditangani dari darat.
Namun, besarnya kekuatan yang dikerahkan justru memperlihatkan betapa kompleksnya karakter kebakaran di lahan gambut.
Ketika Api Padam, Ancaman Belum Berakhir
Di lahan mineral, api yang terlihat padam belum tentu menjadi persoalan besar. Pada gambut, situasinya berbeda.
Api dapat merambat dan membara di bawah permukaan. Karena itu, pemadaman tidak cukup hanya menghilangkan kobaran yang terlihat. Area bekas terbakar harus terus didinginkan untuk memastikan bara tidak kembali menjadi api.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim gabungan tetap melakukan pendinginan setelah pemadaman.
Di Air Kuning, operasi lapangan menghadapi sejumlah kendala: cuaca panas, angin kencang dan minimnya sumber air di sekitar lokasi. Situasi tersebut memperbesar tantangan untuk memastikan titik api benar-benar aman.
Lokasi kebakaran bahkan dilaporkan tersebar pada tujuh titik koordinat, dengan jarak sekitar 25 kilometer dari Polsek Kerumutan.
Artinya, persoalan bukan semata seberapa cepat api dipadamkan, tetapi seberapa efektif seluruh titik panas dapat ditemukan dan dipastikan tidak kembali menyala.
Kerumutan dan Siklus Karhutla
Kasus terbaru ini juga tidak berdiri sendiri. Pada awal Agustus, kebakaran di wilayah Kerumutan kembali mendapat penanganan intensif. Tim gabungan sebelumnya juga menghadapi karakter lahan gambut yang kering dan tebal, cuaca panas, angin kencang serta material mudah terbakar seperti tunggul kayu dan vegetasi kering.
Dalam operasi sebelumnya, helikopter water bombing juga digunakan untuk membantu menjangkau titik yang sulit ditangani melalui jalur darat.
Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan satu persoalan penting: Karhutla di kawasan gambut tidak dapat dipandang sebagai kejadian insidental semata.
Ketika kebakaran berulang di wilayah yang sama atau berdekatan, maka pendekatan penanganan tidak cukup hanya berbasis pemadaman.
Ada pekerjaan yang jauh lebih besar: mencegah api muncul kembali.
Dari Pemadaman Menuju Pencegahan
Pengerahan excavator dan water bombing menunjukkan keseriusan pemerintah dan aparat dalam merespons keadaan darurat. Namun, operasi pemadaman pada dasarnya adalah respons setelah kebakaran terjadi.
Pertanyaan lingkungan yang lebih penting adalah apa yang dilakukan sebelum api muncul.
Bagaimana kondisi muka air gambut?
Seberapa efektif pembasahan kembali lahan?
Bagaimana pengawasan terhadap aktivitas manusia di kawasan rawan?
Apakah titik-titik rawan kebakaran telah dipetakan secara permanen?
Dan yang tidak kalah penting, siapa yang memastikan kawasan gambut tetap terlindungi setelah personel pemadam meninggalkan lokasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena gambut memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih besar daripada sekadar hamparan lahan.
Ketika gambut terbakar, persoalannya bukan hanya hilangnya vegetasi. Kebakaran gambut dapat menghasilkan asap pekat, merusak ekosistem, mengganggu kualitas udara dan melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar.
Jangan Tunggu Asap Menjadi Bencana
Kekuatan puluhan personel, puluhan mesin pemadam, excavator dan helikopter water bombing merupakan bukti bahwa negara hadir ketika kebakaran terjadi.
Tetapi ukuran keberhasilan penanganan Karhutla seharusnya tidak hanya dihitung dari berapa hektare yang berhasil dipadamkan.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah agar tidak terjadi lagi.
Kerumutan kembali memberikan alarm.
Hari ini api dilawan dari darat dan udara. Besok, tantangannya adalah memastikan kawasan gambut tidak kembali menjadi medan perang antara manusia dan api.
Sebab ketika gambut terus terbakar, yang hilang bukan hanya semak dan pepohonan.
Yang dipertaruhkan adalah fungsi ekologis, kualitas udara, keselamatan masyarakat dan masa depan lingkungan Pelalawan.