Jangan Salah Memaknai Kepatuhan

Senin, 10 Agustus 2026

Gbr.Ilustrasi

Oleh: Redaksi

GARDAPOS.COM, PELALAWAN - Politik membutuhkan rakyat yang cerdas, bukan rakyat yang mudah diarahkan. Agama membutuhkan umat yang taat kepada Allah, bukan manusia yang kehilangan akal sehat dan nalar kritis.

Kepatuhan tanpa pemahaman dapat berubah menjadi fanatisme. Sebaliknya, kritik tanpa etika dapat berubah menjadi pembangkangan. Karena itu, masyarakat membutuhkan keseimbangan: taat pada kebenaran, tetapi kritis terhadap klaim kebenaran yang dibuat manusia.

Dalam kehidupan demokrasi, rakyat tidak boleh hanya menjadi objek politik. Rakyat harus menjadi subjek yang mampu membaca kebijakan, mempertanyakan kekuasaan, memeriksa fakta, dan menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.

Begitu pula dalam kehidupan beragama. Menghormati ulama dan pemimpin bukan berarti menutup pintu pertanyaan. Justru tradisi keilmuan Islam mengenal tabayyun, musyawarah, argumentasi, dan pencarian ilmu.

Sebab, kebenaran tidak takut diperiksa. Yang biasanya takut diperiksa adalah kepentingan yang berlindung di balik nama kebenaran.

“Rakyat cerdas bukan ancaman bagi negara. Jamaah yang berilmu bukan ancaman bagi agama. Yang menjadi ancaman adalah ketika kebodohan dan kepatuhan buta dipelihara untuk mempertahankan kepentingan tertentu”.