Wakasad Tegaskan Komunikasi Jadi Kunci Dansatkowil: TNI AD Harus Hadir, Mendengar, dan Menjawab Persoalan Rakyat

Sabtu, 08 Agustus 2026

(Sumber foto: Dispenad)

GARDAPOS.COM, CIMAHI — Kepemimpinan satuan kewilayahan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan organisasi dan kemampuan komando. Di tengah kompleksitas persoalan masyarakat, komunikasi menjadi instrumen strategis untuk membangun kepercayaan, memperkuat sinergi, sekaligus memastikan kehadiran TNI AD benar-benar dirasakan rakyat.

Pesan itu ditegaskan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa saat memberikan pembekalan sekaligus menutup Apel Dansatkowil TNI AD Terpusat Tahun 2026 di Pusat Pendidikan Artileri Medan (Pusdikarmed), Cimahi, Jawa Barat, Jumat (7/8/2026).

Di hadapan lebih dari 400 peserta apel, Wakasad menempatkan kemampuan komunikasi sebagai salah satu fondasi kepemimpinan seorang Komandan Satuan Kewilayahan (Dansatkowil). Komandan dituntut bukan hanya mampu memberikan perintah, tetapi juga mendengar, memahami, dan membangun hubungan dengan seluruh unsur di wilayahnya.

“Komandan satuan harus memiliki komunikasi yang baik dengan anggota, mulai dari perwira, bintara hingga tamtama. Dengarkan permasalahan mereka. Di sisi lain, komandan juga harus aktif hadir di tengah masyarakat untuk menyampaikan program-program pemerintah sehingga dapat diterima dan berjalan dengan baik,” tegas Wakasad.

Komandan Harus Turun dari Menara Komando

Penekanan tersebut mengandung pesan penting bagi kepemimpinan TNI AD di tingkat kewilayahan: Dansatkowil tidak boleh berjarak dengan prajurit maupun masyarakat.

Komandan harus mengetahui kondisi internal satuan sekaligus memahami dinamika sosial di wilayah tanggung jawabnya. Dengan komunikasi yang terbuka, persoalan prajurit dapat diketahui lebih awal, sementara aspirasi masyarakat dapat menjadi bagian dari pertimbangan dalam menjalankan tugas pembinaan teritorial.

Dalam konteks ini, komunikasi bukan sekadar kemampuan menyampaikan pesan, tetapi menjadi jembatan antara TNI, pemerintah dan masyarakat.

Karena itu, Dansatkowil dituntut aktif membangun sinergi dengan pemerintah daerah, Polri, kementerian dan lembaga, serta berbagai komponen bangsa.

Kasad: Hasil Apel Harus Berubah Menjadi Aksi

Dalam kesempatan yang sama, Wakasad membacakan amanat tertulis Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc.

Kasad mengapresiasi pelaksanaan Apel Dansatkowil sebagai forum strategis untuk menyamakan persepsi, memperkuat komitmen, dan meningkatkan kapasitas para komandan kewilayahan menghadapi dinamika tugas.

Namun, pembekalan tersebut tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial.

Kasad menegaskan seluruh hasil apel harus segera diterjemahkan menjadi langkah konkret di satuan masing-masing, sesuai karakteristik dan kebutuhan wilayah.

Arah tersebut sekaligus menempatkan Dansatkowil sebagai salah satu ujung tombak TNI AD dalam memperkuat pembinaan teritorial, menjaga stabilitas wilayah, sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional.

Tiga Instruksi: Bertindak, Berkomunikasi, Berinovasi

Kasad memberikan tiga penekanan utama kepada seluruh peserta.

Pertama, segera menindaklanjuti hasil Apel Dansatkowil melalui langkah konkret yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing.

Kedua, memperkuat pembinaan teritorial melalui kepemimpinan yang adaptif dan komunikasi sosial yang efektif.

Ketiga, mengembangkan inovasi dalam membantu mengatasi kesulitan masyarakat melalui berbagai program unggulan TNI AD yang dilaksanakan secara tepat sasaran, akuntabel dan berkelanjutan.

Tiga penekanan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan TNI AD di wilayah tidak hanya diukur dari kesiapan personel dan kemampuan operasional, tetapi juga dari kemampuan membangun kepercayaan publik dan memberikan solusi atas persoalan nyata masyarakat.

Kemanunggalan TNI-Rakyat Harus Dibuktikan

Apel Dansatkowil TNI AD Tahun 2026 pada akhirnya membawa satu pesan strategis: kemanunggalan TNI dengan rakyat harus terus dirawat melalui kepemimpinan yang hadir dan komunikasi yang nyata.

Dansatkowil dituntut menjadi pemimpin yang mampu membaca perubahan, membangun kolaborasi, sekaligus menjaga profesionalisme prajurit.

Di tengah dinamika sosial dan tantangan pembangunan nasional, TNI AD diharapkan tidak hanya menjadi kekuatan pertahanan negara, tetapi juga mampu menjalankan peran kewilayahan secara terukur dengan tetap berpegang pada tugas pokok, aturan hukum, serta kepentingan bangsa dan negara.

Dari Cimahi, pesan Wakasad jelas: komandan yang mampu berkomunikasi akan lebih mudah memahami persoalan. Dan komandan yang memahami persoalan akan lebih siap menggerakkan satuannya untuk hadir memberi manfaat bagi rakyat.