
Oleh: Dr. Iswadi M. Yazid, Lc., M.Sy.
GARDAPOS.COM - Ada satu kata yang menjadi fondasi lahirnya peradaban Islam: Iqra'. Kata pertama yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW itu bukan sekadar ajakan membaca huruf demi huruf, melainkan panggilan membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan. Perintah tersebut menegaskan bahwa kebangkitan umat tidak pernah bermula dari kekuatan fisik atau kemegahan materi, melainkan dari kemampuan membaca, memahami, merenungkan, dan mengembangkan ilmu.
Dalam perspektif Islam, membaca bukan sekadar aktivitas mekanis yang berhenti pada teks. Membaca adalah jalan mengenal Allah SWT, memahami alam semesta, serta mengenali hakikat diri manusia. Karena itu, para ulama memaknai Iqra' sebagai ajakan membaca seluruh ayat Allah, baik yang tertulis dalam Al-Qur'an (qauliyah) maupun yang terbentang di alam semesta (kauniyah). Dari sinilah lahir tradisi keilmuan yang menjadikan ilmu sebagai cahaya kehidupan.
Sejarah mencatat, peradaban Islam pernah berdiri di atas fondasi literasi yang sangat kokoh. Kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Cordoba, hingga Fez berkembang bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat ilmu pengetahuan. Rumah-rumah ilmu menjadi tempat bertemunya ulama, ilmuwan, penulis, penerjemah, dan para pencari ilmu dari berbagai latar belakang. Tradisi membaca, menyalin manuskrip, berdiskusi, mengajar, dan menulis menjadi denyut kehidupan masyarakat.
Namun, denyut itu perlahan melemah.
Di banyak tempat, rumah-rumah ilmu masih berdiri megah dengan koleksi yang terus bertambah. Akan tetapi, ruang-ruang bacanya semakin lengang. Rak-rak dipenuhi buku, tetapi hanya sedikit tangan yang membukanya. Meja-meja yang dahulu menjadi saksi lahirnya berbagai gagasan kini lebih sering kosong. Kesunyian seakan menjadi identitas baru ruang-ruang literasi.
Fenomena ini kerap dimaknai sebagai tanda masyarakat meninggalkan budaya membaca. Penjelasan tersebut memang tidak sepenuhnya keliru, tetapi terlalu sederhana. Sesungguhnya yang berubah bukan hanya kebiasaan membaca, melainkan cara manusia berinteraksi dengan pengetahuan.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah dunia secara drastis. Informasi tersedia sepanjang waktu. Mesin pencari mampu menghadirkan jutaan referensi dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan dapat merangkum berbagai sumber hanya dalam beberapa saat. Media sosial bahkan menjadikan setiap orang sebagai produsen sekaligus penyebar informasi.
Kemudahan ini tentu patut disyukuri. Namun, di balik kelimpahan informasi tersimpan tantangan besar. Masyarakat sering memperoleh jawaban tanpa melalui proses belajar yang utuh. Banyak orang merasa cukup membaca judul, menonton potongan video, atau menyimak ringkasan singkat tanpa melakukan telaah yang mendalam. Akibatnya, pengetahuan menjadi dangkal, sementara kemampuan berpikir kritis perlahan mengalami kemunduran.
Ironisnya, semakin mudah memperoleh informasi, semakin sulit pula membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. Hoaks, manipulasi data, ujaran kebencian, serta berbagai bentuk disinformasi menyebar jauh lebih cepat dibandingkan proses klarifikasinya. Era digital menghadirkan paradoks: informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan justru semakin langka.
Dalam konteks inilah pesan Iqra' menemukan relevansinya kembali. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya sekadar mengumpulkan informasi. Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia menggunakan akal melalui tadabbur, tafakkur, dan tabayyun. Ketiga konsep tersebut mengajarkan bahwa setiap informasi harus dipahami, direnungkan, dan diverifikasi sebelum diterima sebagai kebenaran.
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..." (QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini menunjukkan bahwa literasi dalam Islam selalu berkaitan dengan tanggung jawab moral. Membaca bukan sekadar memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun integritas dalam menerima dan menyebarkan informasi.
Karena itu, ruang-ruang yang selama ini menjadi pusat penyimpanan dan penyebaran ilmu tidak boleh kehilangan ruhnya. Keberadaannya tidak cukup diukur dari luas bangunan, banyaknya koleksi, ataupun kecanggihan fasilitas digital. Yang jauh lebih penting adalah kemampuannya melahirkan masyarakat pembelajar.
Rumah ilmu sejatinya bukan sekadar gudang buku. Ia adalah ruang bertumbuhnya akal sehat, karakter, dan kebijaksanaan. Di sanalah anak-anak belajar mencintai bacaan, pelajar menemukan inspirasi, mahasiswa mengembangkan penelitian, guru memperkaya wawasan, dan masyarakat memperoleh pengetahuan yang dapat dipercaya.
Dalam tradisi Islam, ilmu selalu dipandang sebagai amanah. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu yang tidak diamalkan akan kehilangan keberkahannya, sedangkan amal tanpa ilmu akan kehilangan arah. Hubungan keduanya melahirkan budaya belajar yang tidak berhenti pada hafalan, tetapi berlanjut pada pembentukan akhlak dan kemanfaatan sosial.
Menghidupkan kembali budaya literasi tidak cukup dilakukan melalui gerakan membaca sesaat atau sekadar menambah koleksi bacaan. Yang lebih mendasar adalah membangun ekosistem yang menjadikan ilmu sebagai kebutuhan hidup. Literasi harus menjadi budaya keluarga, denyut sekolah, semangat kampus, gerakan komunitas, sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat.
Keluarga memegang peran yang sangat penting. Rumah adalah madrasah pertama, sementara orang tua merupakan teladan utama dalam mencintai ilmu. Anak-anak tidak tumbuh menjadi pembaca karena diperintah membaca, melainkan karena menyaksikan budaya membaca hidup di rumah. Ketika buku memperoleh tempat yang terhormat dalam keluarga, sesungguhnya benih-benih peradaban sedang ditanam.
Sekolah dan perguruan tinggi pun memikul tanggung jawab yang sama. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada penyelesaian kurikulum atau pencapaian nilai akademik, melainkan harus menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, serta kebiasaan mencari jawaban melalui proses ilmiah.
Pada saat yang sama, perkembangan teknologi seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman. Dunia digital justru dapat menjadi sahabat literasi apabila dimanfaatkan secara bijaksana. Koleksi digital, jurnal elektronik, manuskrip daring, kelas virtual, dan berbagai platform pembelajaran mampu memperluas akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Teknologi semestinya menjadi jembatan yang mempertemukan lebih banyak orang dengan ilmu, bukan menjauhkan mereka dari proses belajar yang mendalam.
Namun demikian, teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan nilai-nilai yang dibangun melalui tradisi belajar. Algoritma dapat memberikan jawaban, tetapi tidak dapat menggantikan proses perenungan. Mesin mampu menyajikan data, tetapi tidak dapat menanamkan hikmah. Kecerdasan buatan dapat membantu menemukan informasi, tetapi kebijaksanaan tetap lahir dari hati yang mau belajar dan akal yang terus dilatih.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa perjalanan menuntut ilmu memiliki dimensi spiritual. Setiap langkah menuju majelis ilmu, setiap waktu yang dihabiskan untuk membaca, dan setiap diskusi yang dilakukan dengan niat mencari kebenaran merupakan bagian dari ibadah. Tradisi inilah yang perlu dihidupkan kembali agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga pencinta ilmu.
Momentum Hari Pustakawan Indonesia sejatinya bukan hanya menjadi penghargaan bagi mereka yang mengabdikan hidup di dunia kepustakaan. Lebih dari itu, momentum ini mengajak kita merenungkan kembali hubungan masyarakat dengan ilmu pengetahuan. Kesunyian yang menyelimuti banyak rumah ilmu bukan sekadar persoalan berkurangnya pengunjung, tetapi juga cermin melemahnya budaya belajar yang pernah menjadi kebanggaan peradaban Islam.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap ruang-ruang literasi. Tempat-tempat itu bukan sekadar lokasi menyimpan buku, melainkan ruang perjumpaan antara pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai kemanusiaan. Di sanalah generasi masa depan ditempa menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Peradaban besar tidak pernah dibangun oleh masyarakat yang hanya gemar mengonsumsi informasi. Peradaban lahir dari masyarakat yang mencintai ilmu, menghormati proses belajar, menghargai karya tulis, dan menjadikan membaca sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selama semangat itu terus dipelihara, harapan lahirnya generasi yang berilmu, beradab, dan berintegritas akan selalu terbuka.
Mungkin yang sesungguhnya perlu diramaikan bukan hanya bangunan-bangunan tempat menyimpan buku, melainkan hati dan pikiran manusia agar kembali mencintai ilmu. Sebab ketika budaya membaca hidup, tradisi berpikir tumbuh, dan semangat belajar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, saat itulah cahaya Iqra' benar-benar menerangi perjalanan sebuah bangsa menuju peradaban yang bermartabat.
Wallahu a'lam bishawab.