
(Foto: Prof Gema Goeyardi, Istimewa).
Oleh: Redaksi
GARDAPOS – Di tengah tantangan ekonomi global yang semakin kompleks, muncul satu pertanyaan besar yang kini menjadi perdebatan publik: apakah Danantara akan menjadi lompatan besar menuju Indonesia Emas atau justru menjadi proyek berisiko yang membebani negara di masa depan?
Pertanyaan itu mengemuka setelah berbagai kalangan mulai menyoroti kehadiran Danantara sebagai sovereign wealth fund atau lembaga pengelola investasi negara yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam sebuah pemaparan yang disampaikan analis ekonomi Prof. Gema Goeyardi melalui kanal YouTube Mata Rakyat, Danantara dipandang sebagai instrumen strategis untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru tanpa harus meningkatkan tekanan pajak kepada masyarakat.
Menurut Gema, selama ini penerimaan negara sangat bergantung pada pajak dan utang. Karena itu, dibutuhkan terobosan agar negara memiliki sumber pemasukan baru yang mampu menghasilkan nilai tambah secara berkelanjutan.
"Jika negara ingin tumbuh cepat tanpa terus membebani rakyat melalui pajak, maka negara harus memiliki mesin penghasil uang baru. Danantara dirancang untuk memainkan peran tersebut," ujarnya.
Mengelola Aset Negara Menjadi Mesin Pertumbuhan
Danantara diberikan mandat mengelola sejumlah aset strategis milik negara yang selama ini berada di bawah BUMN besar seperti Bank Mandiri, BRI, BNI, Pertamina, PLN, Telkom Indonesia, dan MIND ID.
Konsepnya sederhana namun ambisius: mengubah aset negara yang selama ini kurang produktif menjadi sumber investasi yang mampu menghasilkan keuntungan berkelanjutan bagi negara.
Pemerintah sebelumnya telah melakukan efisiensi anggaran yang menghasilkan dana segar ratusan triliun rupiah. Dana tersebut diproyeksikan menjadi modal awal investasi pada sektor-sektor strategis yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Gema menilai langkah tersebut sejalan dengan praktik yang telah lama diterapkan sejumlah negara maju.
"Singapura memiliki Temasek Holdings, Norwegia memiliki Government Pension Fund, dan Abu Dhabi memiliki ADIA. Semuanya dibangun dengan tujuan yang sama, yakni mengembangkan kekayaan negara secara profesional," katanya.
Teknologi, Energi Hijau dan Pangan Jadi Sasaran Investasi
Dalam pandangan Gema, sektor teknologi diperkirakan menjadi salah satu fokus investasi utama Danantara.
Indonesia dinilai masih tertinggal dalam penguasaan teknologi strategis seperti kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), sementara negara-negara lain berlomba menjadikan teknologi sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi baru.
Selain teknologi, sektor energi terbarukan juga diprediksi menjadi prioritas. Tren ekonomi dunia yang bergerak menuju energi hijau, perdagangan karbon, dan transisi energi dinilai membuka peluang besar bagi Indonesia.
Di sektor pangan, pemerintah disebut memiliki ambisi besar membangun kembali kemandirian pangan nasional melalui penguatan agribisnis dan pengelolaan lahan produktif dalam skala besar.
Sementara itu, hilirisasi industri yang telah dimulai pada era sebelumnya diperkirakan akan terus diperkuat untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nasional.
Magnet Baru Investasi Global
Salah satu harapan terbesar dari Danantara adalah meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor internasional.
Selama ini Indonesia masih tertinggal dibanding Singapura dalam menarik Foreign Direct Investment (FDI). Kehadiran Danantara diharapkan mampu memberikan sinyal bahwa Indonesia serius membangun ekosistem investasi yang lebih kompetitif dan profesional.
Jika dikelola secara baik, Danantara berpotensi menjadi kendaraan investasi nasional yang mampu menghubungkan modal domestik dan internasional untuk mendanai proyek-proyek strategis.
Selain mendorong investasi, proyek-proyek yang lahir dari Danantara juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan produktivitas nasional, serta mempercepat pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah.
Peluang Besar, Risiko Tetap Ada
Meski optimistis, Gema mengingatkan bahwa keberhasilan sovereign wealth fund tidak pernah otomatis.
Sejarah mencatat sejumlah dana investasi negara berhasil menciptakan kekayaan luar biasa, namun ada pula yang berakhir sebagai skandal besar.
Kasus 1MDB di Malaysia menjadi contoh bagaimana lemahnya tata kelola dapat berujung pada kerugian negara dan krisis kepercayaan publik.
Karena itu, menurutnya terdapat beberapa syarat mutlak agar Danantara berhasil, yakni transparansi penuh, profesionalisme pengelola, bebas dari intervensi politik, fokus pada investasi produktif, serta komunikasi yang konsisten kepada publik dan pasar.
"Kepercayaan adalah modal utama. Tanpa transparansi dan tata kelola yang baik, proyek sebesar apa pun akan kehilangan legitimasi," ujarnya.
Taruhan Besar Menuju Indonesia Emas
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Danantara menjadi salah satu proyek ekonomi paling ambisius dalam sejarah Indonesia modern.
Jika berhasil, lembaga ini berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru yang memperkuat kedaulatan ekonomi nasional, mempercepat industrialisasi, dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber penerimaan konvensional.
Namun apabila tata kelolanya gagal, konsekuensinya juga tidak kecil, mulai dari hilangnya kepercayaan investor hingga kerugian negara dalam jumlah besar.
Karena itu, Danantara bukan sekadar proyek investasi. Ia telah menjadi taruhan besar bagi masa depan ekonomi Indonesia.
Bagi banyak kalangan, pertanyaan yang kini menunggu jawaban bukan lagi apakah Danantara akan berjalan, melainkan apakah Indonesia mampu mengelolanya dengan disiplin, profesionalisme, dan semangat nasionalisme yang menempatkan kepentingan bangsa di atas segala-galanya.