Danantara Tembus Pasar Global, Obligasi Rp24 Triliun Diserbu Investor Dunia hingga 4,6 Kali Lipat

Sabtu, 20 Juni 2026

(Foto Istimewa).

GARDAPOS.COM, JAKARTA – Di tengah berbagai keraguan terhadap prospek ekonomi nasional dan dinamika pasar global yang penuh ketidakpastian, Indonesia justru mencatatkan capaian yang mengejutkan pasar keuangan internasional. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia sukses menembus pasar obligasi global dengan permintaan investor yang jauh melampaui target awal.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM yang juga CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa penerbitan perdana global bond Danantara mendapat respons sangat positif dari investor internasional dalam rangkaian roadshow yang digelar di Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York sejak awal Juni.

Menurut Rosan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari capaian Danantara yang berhasil memperoleh peringkat investasi (investment grade) dari lembaga pemeringkat internasional Moody's, Standard & Poor's (S&P), serta Fitch Ratings. Bahkan, peringkat yang diperoleh setara dengan sovereign rating atau peringkat utang Pemerintah Indonesia.

"Kami awalnya menargetkan penerbitan obligasi global sebesar 1 miliar dolar AS. Namun setelah melakukan roadshow dan book building, minat investor mencapai sekitar 4,6 miliar dolar AS atau lebih dari empat kali target awal," kata Rosan (15/6) dalam Ruang Sidang Kabinet di Istana Merdeka, Jakarta.

Melihat tingginya minat pasar, Danantara akhirnya meningkatkan nilai penerbitan menjadi 1,5 miliar dolar AS yang dibagi dalam tenor lima tahun dan sepuluh tahun.

Yang menarik, keberhasilan tersebut terjadi saat kondisi pasar keuangan Indonesia tengah menghadapi tekanan. Saat proses penawaran berlangsung, pasar saham dan nilai tukar rupiah sedang mengalami pelemahan sehingga banyak pihak mempertanyakan waktu penerbitan obligasi tersebut.

Namun hasil akhirnya justru di luar ekspektasi.

Obligasi tenor lima tahun berhasil diterbitkan dengan tingkat kupon 5,35 persen, sementara obligasi tenor sepuluh tahun ditetapkan pada 5,95 persen. Angka tersebut dinilai kompetitif dan mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia.

"Kalau investor tidak percaya, mereka pasti meminta premi risiko yang jauh lebih tinggi. Faktanya, yield yang diperoleh sangat kompetitif," ujar Rosan.

Keberhasilan ini juga menjadi bukti konkret bahwa pasar internasional masih memandang Indonesia sebagai destinasi investasi yang menjanjikan. Dana hasil penerbitan obligasi tersebut dijadwalkan masuk ke rekening Danantara pada 18 Juni setelah penandatanganan transaksi dilakukan pada 11 Juni.

Dari sisi komposisi investor, dominasi justru datang dari Amerika Serikat dan Eropa. Untuk obligasi tenor lima tahun, sebanyak 38 persen investor berasal dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, serta 21 persen dari Asia.

Sementara pada tenor sepuluh tahun, investor asal Amerika Serikat mendominasi hingga 52 persen, disusul Eropa dan Timur Tengah sebesar 31 persen serta Asia 17 persen.

Komposisi tersebut dinilai cukup unik karena secara historis investor obligasi Indonesia biasanya lebih banyak berasal dari kawasan Asia.

Rosan menilai tingginya minat investor Barat menunjukkan adanya keyakinan kuat terhadap fundamental ekonomi Indonesia serta arah kebijakan investasi yang dijalankan pemerintah.

Selain itu, sejumlah investor bahkan menyatakan kesiapan mereka apabila Danantara di masa mendatang menerbitkan obligasi dengan tenor lebih panjang hingga 30 tahun.

Menurut Rosan, capaian ini sekaligus membantah berbagai keraguan yang selama ini berkembang terkait kemampuan Danantara menarik kepercayaan pasar internasional.

"Faktanya investor datang, membeli, bahkan permintaannya lebih dari tiga kali lipat nilai penerbitan. Ini menunjukkan kredibilitas Danantara dan kepercayaan global terhadap Indonesia tetap kuat," tegasnya.

Keberhasilan penerbitan obligasi perdana tersebut juga mendapat perhatian media ekonomi internasional. Salah satunya Bloomberg yang menilai debut obligasi dolar Danantara sebagai sinyal positif bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

Bagi Indonesia, keberhasilan ini bukan sekadar soal penghimpunan dana investasi. Lebih dari itu, penerbitan obligasi global Danantara menjadi indikator bahwa kepercayaan pasar internasional terhadap arah pembangunan ekonomi nasional masih terjaga, bahkan ketika dunia menghadapi tekanan geopolitik dan geoekonomi yang semakin kompleks.