
(Foto Istimewa).
Oleh: Redaksi
Kematian seekor tapir jantan di Jalan Koridor RAPP memicu sorotan terhadap fragmentasi habitat dan keselamatan satwa dilindungi di lanskap hutan Pelalawan.
PELALAWAN – Kematian seekor tapir jantan yang ditemukan mengenaskan di Jalan Koridor PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Jumat (19/6/2026), kembali memunculkan pertanyaan serius tentang keselamatan satwa liar yang hidup berdampingan dengan aktivitas industri di kawasan hutan Pelalawan.
Satwa dilindungi tersebut diduga menjadi korban tabrakan kendaraan saat melintasi jalan koridor perusahaan. Peristiwa ini sontak memicu reaksi pegiat lingkungan dan pemerhati konservasi yang menilai kejadian serupa berpotensi terus berulang apabila tidak ada langkah mitigasi yang lebih serius.
Menurut sejumlah pemerhati lingkungan, jalan koridor yang membelah kawasan habitat satwa telah menciptakan hambatan ekologis bagi pergerakan hewan liar, termasuk tapir yang dikenal memiliki jalur jelajah tetap untuk mencari makan dan sumber air.
"Tapir merupakan satwa yang cenderung setia pada rute pergerakannya. Ketika jalur alami mereka terpotong oleh infrastruktur jalan, risiko konflik dengan kendaraan menjadi sangat tinggi," ujar salah seorang pemerhati lingkungan yang mengikuti perkembangan kasus tersebut.
Kematian tapir ini dinilai bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan peringatan bahwa ruang hidup satwa liar semakin terdesak oleh aktivitas manusia. Kondisi tersebut menuntut adanya evaluasi terhadap sistem perlindungan satwa di kawasan yang menjadi lintasan pergerakan fauna.
Desakan kini mengarah pada pembangunan jalur lintas satwa (wildlife crossing), underpass satwa, pemasangan rambu peringatan khusus, pembatasan kecepatan kendaraan hingga maksimal 30 kilometer per jam pada titik-titik yang diketahui menjadi jalur migrasi dan perlintasan satwa liar.
Pengamat lingkungan Erizal menyebut, kematian satu individu tapir harus menjadi momentum untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya.
"Pertanyaannya bukan lagi siapa yang bersalah, tetapi bagaimana memastikan kejadian ini tidak terus terulang. Jika habitat tetap terpotong dan tidak ada perlindungan tambahan, risiko kematian satwa akan selalu ada," ujarnya.
Tapir Asia (Tapirus indicus) merupakan satwa langka yang status konservasinya terancam. Populasinya terus mengalami tekanan akibat hilangnya habitat, perburuan, dan konflik dengan aktivitas manusia.
Peristiwa di Pelalawan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan. Ketika koridor industri bersinggungan dengan koridor satwa, maka perlindungan terhadap keanekaragaman hayati tidak boleh menjadi pilihan, melainkan kewajiban.
Kini publik menunggu langkah konkret para pemangku kepentingan. Sebab bagi tapir yang telah mati, semuanya sudah terlambat. Namun bagi tapir lain yang malam ini masih harus menyeberangi jalan yang sama, keselamatan mereka masih bisa diperjuangkan.